Responsive Ads Here

Rabu, 06 November 2019

Membaca Kebenaran dalam Video Dokumenter


Dalam perkembangan komunikasi kali ini, kajian membaca kebenaran dalam tayangan video dokumenter menjadi penting dihadirkan. Mengapa demikian? Karena video dokumenter menjadi media terkini dalam perkembangan komunikasi, setelah tulisan dan foto.
Tidak bermaksud merendahkan harga diri sebuah tulisan dan tentu juga foto, kadang kala dalam berkomunikasi, tulisan dan foto tidak satu-satunya yang paling sahih dalam menentukan kebenaran sebuah pesan dalam komunikasi. Contohnya begini. Suatu ketika, saya naik bus jurusan Rembang- Yogyakarta. Di dalam bus tersebut terpampanglah sebuah tulisan “Pak Sopir Bus ini masih Perjaka.” Tapi usut punya  usut, ternyata pak sopir sudah menikah tiga tahun yang lalu. 
Jelas tulisan tersebut tidak sahih kebenarannya. Contoh lagi soal kebenaran pesan dalam sebuah foto. Beberapa foto di media sosial saat ini cukup menarik diperhatikan. Terlihat kulit wajah pemilik medsos tampak bersih, merona, dan menggairahkan. Namun kenyataannya, kulit wajah pemilik medsos tidak seperti yang di pampang di medsos yang bersangkutan. 
Jelas, foto tersebut tidak cukup sahih dalam membuktikan kebenarannya. Walaupun demikian, kita bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab sosial dalam menjaga hargadiri sebuah tulisan dan foto, agar pesan yang disampaikan mendekati kesahihan akan sebuah kebenaran.
Dari ilustrasi singkat di atas, ada kecenderungan sebuah tulisan dan foto, rawan ketika dijadikan satu-satunya pembuktian dalam hal kebenaran. Berangkat dari hal itulah, video dokumenter kemudian menjadi media pilihan komunikasi dalam menyampaikan pesan.
Mengapa video dokumenter menjadi pilihan? Secara umum video dokumenter yaitu suatu rekaman peristiwa lapangan.  Di dalam video dokumenter, semua gambar dan suara tidak boleh dimanipulasi. Hasil tangkapan peristiwa di lapangan itulah yang menjadi tayangan. Misal, suatu ketika siswa SMA sedang melakukan wawancara dengan pedagang pasar tradisional.  
Namun secara tiba-tiba adalah suara pengeas pedagang es lilin yang cukup berisik hingga suara wawancaranya nara sumber kalah dengan telolet es lilin. Dalam sebuah video dokumenter, kehadiran penjual es lilin saat wawancara berlangsung tidak boleh dihilangkan. Ketika dihilangkan, video siswa tersebut telah dimanipulasi, alias tidak lagi menjadi video dokumenter. Dari ilustrasi di atas, video dokumenter  akan menjadi media pilihan dalam berkomunikasi karena kesahihan kebenaran sebuah peristiwa di lapangan, terpenuhi.
Namun apakah video dukumenter selalu benar? Saya berharap jawabannya “Ya,”  ketika dibandingkan dengan media tulisan dan foto. Namun kebenaran dalam sebuah tayangan video dokumenter harus terbuka dengan sebuah pengujian kebenaran. Siapapun dan kapanpun, boleh menguji kebenaran dari video dokumenter tersebut. 
Pada prinsipnya, semakin terbuka sikap kita dalam diuji dan menguji sebuah video dokumenter, maka semakin terjaga kebenaran sebuah video dokumenter. Namun sebaliknya, video dokumenter juga bisa salah. Misal, sebuah tayangan video dokumenter tentang keadaan pasar tradisional, dimana pembuat video dokumenter menukar gambar dan audio sebuah pasar tradisional yang berbeda, melalui aplikasi editing film. 
Maka untuk itu, walaupun video dokumenter menjadi alternatif menyampaikan pesan dalam proses komunikasi saat ini, kita sangat perlu memiliki keterampilan dalam membaca kebenaran dari sebuah video dokumenter.
Bagaimana membaca kebenaran dalam tayangan video dokumenter? Senjata dari sebuah kebenaran adalah kejujuran itu sendiri. Tetapi ketika kita serta-merta menuding bahwa seseorang dalam membuat video dokumenter adalah sang pembohong, tentu saja tidak elok. Untuk itu perlu adanya langkah-langkah yang perlu dimiliki pengguna data video dokumenter, agar tidak terjebak dalam dinamika yang cenderung merendahkan antar sesama manusia. 
Menurut saya ada tiga langkah dalam menguji kebenaran sebuah video dokumenter. Pertama, mengikuti proses pembuatannya secara langsung. Kedua, mengkomunikasi video dokumenter dengan rekaman peristiwa yang terjadi pada saat video dokumenter diproduksi. Ketiga, meneliti riwayat perilaku pembuat video dokumenter itu sendiri.
Mengikuti proses pembuatannya secara langsung merupakan cara menguji kebenaran dari sebuah tayangan video dokumenter. Contoh, ketika teman saya membuat video dokumenter pernikahan, maka saya harus terjun ke lapangan. Peristiwa apa saja yang direkam dalam upacara pernikahan, harus saya kroscek dengan hasil video dokumenter yang ditayangkan. Jika antara peristiwa yang saya lihat itu sesuai dengan isi dari tayangan video tersebut, maka video dokumenter itu adalah benar. 
Sebaliknya, jika hasil video dokumenter itu memuat gambar dan audio yang tidak sama, berarti video dokumenter tersebut adalah salah. Walaupun kita menemukan video dokumenter itu tidak benar, etika kita harus tidak merendahkan harga diri pembuat karya tersebut. Sebisa mungkin kita membuat video dokumenter baru, sebagai koreksi atas kesalahan dari video dokumenter yang ada.  
Selanjutnya adalah mengkomunikasi video dokumenter dengan peristiwa yang terjadi pada saat video dokumenter di produksi. Melakukan kroscek sebuah kebenaran atas tayangan video dokumenter kali ini, bukanlah mudah. 
Pekerjaan ini cukup menantang dan tentunya banyak hambatan. Dalam waktu yang sama, belum tentu terdapat tayangan peristiwa yang divideokan secara bersamaan. Untuk itu, kecakapan dalam mencari data adalah hal terpenting, sebelum memilih langkah yang kedua ini. 
Misal, suatu ketika kita sedang menonton video dokumenter peringatan Hari Pendidikan Nasional di Rembang. Untuk menguji kebenaran dari tayangan video dokumenter tersebut, kita harus mencari data tentang peristiwa apa saja yang terjadi pada saat peringatan hari pendidikan nasional di Rembang tersebut. 
Dengan banyaknya media sosial saat ini, ada kecenderungan kita mudah mendapatkan data. Semua peristiwa yang terekam pada waktu itu, harus kita kumpulkan terlebih dahulu, khususnya data video. Jika terdapat kesesuaian isi dalam tayangan video dokumenter dengan video dokumenter yang lainnya, berarti isi dari video dokumenter tersebut adalah benar.
Sebaliknya, jika terjadi ketidaksesuaikan antara tayangan video dokumenter dengan video dokumenter yang lainnya, berarti video dokumenter tersebut memuat salah.
Apakah semua video dokumenter lain, dapat kita jadikan pembanding? Secara umum, saya berharap jawabnya  “ya.” Mengapa demikian? Karena dalam mengendalikan suatu video dokumenter secara bersamaan dalam suatu peristiwa dengan waktu dan tempat yang sama, tidaklah mudah. Walaupun ini bisa saja terjadi, tetapi hanya aktor-aktor tertentu saja yang dapat mendesain semua video dokumenter itu secara bersamaan.  
Untuk itu, kita harus tetap kritis dalam memilih dan memilah mana video dokumenter pembanding yang kita gunakan. Jangan hanya asal memenuhi validasi data saja. Lagi-lagi kejujuran menjadi senjata utama dalam mengurai kebenaran suatu video dokumenter. Tidaklah elok, menguji sebuah kejujuran dengan sebuah kebohongan.
Untuk mensiasati katerbatasan sebuah video dokumenter pembanding, kita bisa melakukan pembuatan video dokumenter pada saat yang sama. Hanya saja pekerjaan ini tidaklah mudah. Sikap yang harus kita utamakan adalah menjadi pelayan dokumentasi dari suatu kebenaran itu sendiri, bukan menyalahkan suatu kebenaran video dokumenter  dengan cara membuat video dokumenter tandingan itu sendiri.
Terakhir, dalam menguji kebenaran suatu video dokumenter, tindakan yang dapat kita lakukan adalah meneliti riwayat perilaku pembuat video dokumenter itu sendiri. Prinsipnya begini. Jika riwayat perilaku pembuat video dokumenter terbiasa jujur, maka video dokumenter yang dihasilkan adalah benar. Sebaliknya, Jika riwayat perilaku pembuat video dokumenter terbiasa bohong, maka video dokumenter yang dihasilkan adalah salah. Menurut saya, langkah pengujian yang ketiga ini sangatlah rawan.
Mengapa demikian? Rawan karena ini berurusan dengan bagaimana kita memandang pembuat video dokumenter. Bayangkan saja, dengan serta-merta suatu ketika terdapat informasi bahwa pembuat video dokumenter itu melakukan perilaku bohong, maka hasilnya pasti kita memandang karyanya tidak benar. 
Bayangkan saja, dengan serta-merta suatu ketika terdapat informasi bahwa pembuat video dokumenter itu melakukan perilaku jujur, maka hasilnya pasti kita memandang karyanya adalah benar. Mengapa kita harus jeli dalam memilih langkah yang ketiga ini? Karena langkah yang ketiga ini cenderung berhubungan status kemanusiaan itu sendiri. Sesama manusia, sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita harus senantiasa saling menghormati. Kewajiban kita adalah tunduk dengan Tuhan Yang Maha Esa, bukan tunduk terhadap sesama manusia, termasuk karyanya.
Ada hal penting kenapa kita perlu mengkaji kebenaran video dokumenter, termasuk kebenaran dari suatu tulisan dan foto. Hal penting tersebut adalah pengaruh media komunikasi dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, mulai dari tulisan, foto, hingga video dokumenter, kerap kali digunakan dalam proses pembelajaran. 
Untuk itu, menjaga kebenaran atas sebuah kebenaran adalah sangat penting. Menjaga kebenaran atas sebuah kebenaran tulisan adalah sangat penting.  Menjaga kebenaran atas sebuah kebenaran foto adalah sangat penting.  Begitu juga, menjaga kebenaran atas sebuah kebenaran video dokumenter adalah sangat penting.  
Untuk itu, menjadi pelayan atas sebuah kebenaran sangatlah penting dalam dunia pendidikan. Entah apa yang terjadi, jika dalam proses pembelajaran, media komunikasi yang kita gunakan adalah salah. Entah apa yang terjadi, ketika buku-buku di perpustakaan salah. Entah apa yang terjadi, ketika foto-foto di galery juga salah. 
Entah apa yang terjadi, ketika video dokumenter yang kita koleksi juga salah. Tentu saja, saya dan para Pembaca yang budiman berharap, bahwa dunia pendidikan kita harus tetap terjaga dari sebuah kebenaran, bukan malah sebaliknya, dunia pendidikan yang penuh dengan kesalahan.
Bantahan atas kebenaran dari video dokumenter adalah suatu keniscahyaan. Namun kita jangan berkecil hati, ada media menarik yang dapat kita gunakan dalam rangka menyampaikan kebenaran, yaitu media kunjungan lapangan. Walaupun demikian, melakukan kunjungan lapangan pun dapat dimanipulasi.
Salam #literasivideo

Etika Memajang Gambar untuk Branding Kegiatan


Tulisan singkat ini semata-mata menjadi nasehat untuk diri saya. Selebihnya adalah untuk pembaca budiman. Latar dari patahan uraian ini berawal dari trend menggunakan objek gambar untuk daya tarik suatu kegiatan.
Suatu ketika, ada organisasi mahasiswa menggunakan objek gambar ulama kharismatik, untuk publikasi kegiatan kampusnya. Srut... srut... srut.... tak lama kemudian poster yang diposting di facebook menjadi viral. Mereka para pengguna media sosial se-umur jagungpun langsung menangkap pesannya, bahwa kegiatan tersebut memiliki kekhasan aroma seperti halnya kekhasan ulasa kharismatik yang dikenakan latar posternya.
Memang tidak menjadi soal, perihal posting kegiatan mahasiswa tersebut. Anggap saja setiap kegiatan mahasiswa itu mulia. Namun menjadi kacau ketika organisasi mahasiswa tersebut memiliki perjalanan historis yang berseberangan dengan ulama kharismatik tersebut.
Efek postingan yang demikian tentu tidak mencerminkan tentang idealisme sebuah gerakan organisasi kemahasiswaan.  Jalan mana yang telah dipilih, seakan menjadi kabur karena postingan mendadak viral. Status dan peranan gerakan yang tadinya heterogen, menjadi semu, gara-gara latar poster yang digunakan.
Usut punya usut, dari hasil obrolan para mahasiswa kritis di warung kopi pojok, ternyata organisasi kemahasiswa itu sedang tersudut terhadap isu gerakan yang digulirkan. Banting setir dengan pura-pura memajang foto ulama kharismatik tentu menjadi pilihan empuk dan menggairahkan, dengan pelan namun pasti bullying kelompok mereka semakin terhindar.
Menyikapi hal tersebut, memang cukup memprihatinkan. Selevel mahasiswa pergerakan saja sudah menggunakan cara kemunafikan. Dan ironisnya, mereka tetap mendapatkan keuntungan dari simbolisasi kharismatik dari ulama, namun disisi lain, infiltrasi dan proyek-proyek mereka tetap tumbuh subur di basis.
Bagi organisasi pergerakan mahasiswa yang menggunakan strategi kacau di atas, tentu diharap segera dihentikan. Apapun alasannya, itu bukanlah potret idealisme gerakan mahasiswa Indonesia yang ideal. Selanjutnya, bagi organisasi masih memegang teguh idealisme (jika masih ada), semoga tidak terpengaruh dengan tipu muslihat poster kegiatan yang ada di unggah di media sosial. Lantas bagaimana menjadi bagian organ pergerakan, khususnya dalam hal ber-etika memanfaatkan gambar untuk branding kegiatan?  Mari saling berliterasi.
Ibarat memajang bunga, tentu tidak elok jika yang kita pajang di rumah kita itu bunga milik orang lain. Boleh milik orang, tapi tentu harus ada hal ihwal perijinannya. Tak cukup hanya ijin, pemajang harus merawat bunga tersebut dari sengatan kumbang jahat. Bunga itu harus terjaga setiap detiknya. Bolehlah sang kumbang datang menghisap madunya, namun harus dipastikan bahwa hisapan kumbang itu semata-mata untuk membantu penyerbukan hingga tumbuh pesona bibit bunga baru yang semakin dan lebih kharismatik dari parentalnya. Hanya itu yang bisa, dan selebihnya, tidak boleh.
Dari analogi relasi rumah-bunga-dan-kumbang itu, kata kuncinya adalah “merawat” sebuah gambar menjadi etika memanfaatkan gambar untuk branding kegiatan.  Siapapun harus menjiwai alur sentuhan merawat. Lantas bagaimana organisasi mahiswa dalam beretika menggunakan gambar untuk branding kegiatannya? Siapapun dan kapanpun, mereka yang menggunakan sebuah gambar untuk  untuk branding kegiatannya, harus melakukan tindakan merawat. Mereka yang tidak memiliki riwayat merawat gambar tersebut, sangatlah tidak etik menggunakan gambar tersebut. Terlebih mereka yang selama ini berseberangan bahkan melawan substansi gambar tersebut, sangatlah tidak elok.
Sedikit menjadi bahan literasi saja, siapapun organisasi kemahasiswaan, sungguh tidak baik menggunakan gambar ulama kharismatik, jika gerakan kemahasiswaan tersebut tidak melakukan tindakan merawat gagasan, sikap, dan teladan ulama tersebut. Ini bukan semata-mata mengalihkan hak, namun ini adalah etika yang perlu di-inkulturisasikan pada organisasi kemahasiswaan. Mau jadi apa bangsa ini, jika mahasiswanya saja tidak peduli dengan etika.
Ekspresi tindakan merawat tentu sangat luas. Tindakan riil dapat dilakukan diantaranya; menulis biografi ulama kharismatik, peneltiian etnografi ulama kharismatik, membedah alur pikir ulama kharismatik, hingga meneladani ajaran dan anjuran ulama kharismatik, harus dilakukan sebelum menggunakan foto ulama kharismatik menjadi latar poster untuk untuk branding kegiatan.

Sumber: https://www.kompasiana.com/es_lodheng/5931814e579373b63a390543/etika-memajang-gambar-untuk-branding-kegiatan 

Panduan Praktis Saat Berkunjung ke Vihara Ratanavana Arama Sendangcoyo Lasem


Saat kunjungan kemanapun, terkadang kita disibukkan dengan hal-hal teknis dan administratif. Bawa inilah bawa itulah. Ijin inilah ijin itulah. Semua itu demi kelancaran akan rencana kunjungan. Dengan sibuknya persiapan teknis dan administratif itulah, terkadang kita lupa menyiapkan instrumen panduan untuk liputan. Sehingga terkadang disayangkan. Sudah jauh-jauh, sudah capek-capek, eh... nggak dapet deh oleh-oleh yang sangat berharga, apa itu? Tulisan kunjungan lapangan. 
Berangkat dari sisi kelemahan kunjungan tersebut, maka setiap jurnalis dan atau peneliti perlu menyiapkan panduan praktis yang berisikan point-point pengamatan dan wawancara. 
Kali ini saya akan berbagi tentang point-pointi penting untuk pengamatan dan wawancara bagi yang akan melakukan kunjungan ke Vihara Ratanavana Arama Sendangcoyo Lasem Rembang Jawa Tengah. 
Tema tulisan menarik yang dapat kita angkat saat berkunjung di Vihara ini adalah tentang pola interaksi sosial dan kerukunan. Tentu juga banyak tematik lain yang tidak kalah menariknya. Tapi urusan interaksi sosial dan kerukunan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, masih sangat penting diperhatikan, dikelola, dan dipelihara. Mengapa? Karena Indonesia itu beragam. Indonesia itu majmuk. Merawat keberagaman dan atau kemajmukan adalah tindakan nyata yang perlu kita lakukan. 
Bagaimana caranya? Caranya mudah. Silahkan rencanakan kunjungan pada kelompok sosial atau macam apalah. Lalu gunakan instrumen ini. Mudahkan.
Tampak para siswa SMA sedang mengunjung Vihara Ratanawana Arama dalam rangka merawat kerukunan (Dok. Pribadi, tahun 2017)
Tampak para siswa SMA sedang mengunjung Vihara Ratanawana Arama dalam rangka merawat kerukunan (Dok. Pribadi, tahun 2017)
Mengapa harus mengujungi? Hal yang perlu kita lakukan adalah mengunjungi. Saling mengunjungi adalah kata kunci dalam membangun kerukunan. Terlebih mengunjungi dengan melakukan kajian mikroskopis tentang pola interaksi keberadaanya dengan masyarakat yang ada. Ini adalah benteng. Ini adalah cara penting dalam merawat kerukunan. Mari kita lakukan. OK...!!!!
Kembali ke panduan praktis saat berkunjung di Viahara Ratanavana Arama. 
Instrumen penelitian ini mengkhususkan untuk memotret pola hubungan keberadaan Vihara Ratanavana Arama Sendangcoyo Lasem. Dengan memotret pola interaksi sosial antara Vihara Ratanavana Arama Sendangcoyo dengan masyarakat sekitar, akan terlihat hubungan fungsional yang memuliakan. Sehingga diharapkan akan terbentuk kerukunan dalam tataran nalar dan tindakan.
Untuk itu, berikut ini adalah contoh panduan praktis saat berkunjung di Vihara Ratanavana Arama, terkhusus panduan ini untuk jurnalis dan atau peneliti. 
Bagian Awal
Ceritakan latar belakang kunjungan lapangan di Vihara Ratanavana Arama
Ceritakan tujuan kunjungan lapangan di Vihara Ratanavana Arama
Ceritakan manfaat kunjungan lapangan di Vihara Ratanavana Arama
Ceritakan bagaimana metode penulisan laporan kunjungan lapangan ini
Bagian Isi
Ceritakan secara lengkapa siapakah Bhante Sudhammo Mahathera
Ceritakan sejarah berdirinya Vihara Ratanavana Arama
Ceritakan secara detail dan lengkap situs-situs yang ada  Vihara Ratanavana Arama (sertakan foto/ video)
Ceritakan interaksi sosial yang terjadi antara Vihara Ratanavana Arama dengan masyarakat setempat, dalam hal;
Pendidikan
Keyakinan
Pekerjaan
Kesenian
Tradisi  
Perdagangan
Teknologi
Ceritakan kerukunan pada masyarakat di sekitar Vihara Ratanavana Arama
Paparkan gagasan kalian tentang kerukunan antar umat beragama dengan keberadaan Vihara Ratanavana Arama
Bagian Akhir 
Ceritakan secara singkat tentang;
situs yang ada di Vihara Ratanavana Arama
gagasan kerukunan antar umat beragama
Ceritakan pesan dan kesan kalian terhadap keberadaan Vihara Ratanavana Arama
Selamat mencoba, selamat melakukan.

Kolourologi Buah Kersen


Buah Kersen memiliki ragam warna. Dengan bentuk buahnya yang bulat, buah yang satu ini memiliki warna masak yang cenderung kemerahan. Hasil pengamatan singkat, warna kersen dipengaruhi oleh usia dari buah itu sendiri. Semakin muda, warna kulit buahnya cenderung kementahan tipis. Dan ketika masak, warna buah cenderung berwarna matang pekat. 
Buah Kersen cukup menarik untuk para burung. Hingga saat ini memang belum ada penelitian tengan pengaruh warna burung yang gemar makan buah kersen. Namun kenyataannya, semua burung penggemar buah kersen ini memiliki warna dan corak yang menarik. 
Beberapa burung yang kerap hinggap dan memanen buah kersen diantarnya; burung kemade, cucak hijau, pleci, burung walik, burung-madu, dan trucukan. Semua burung tersebut secara kebetulan memiliki warna bulu yang menarik. Mungkin saja, selain genetis dan evolusi warna burung yang semakin menarik, juga terdapat peran dari ragam warna pada makanan buah yang dimakannya.
Kandungan komposisi senyawa dalam 100 g buah kersen [Gemilang, 2012]
Kandungan komposisi senyawa dalam 100 g buah kersen [Gemilang, 2012]
Kajian terdahulu, buah kersen ditemukan dan terbukti memiliki banyak manfaat. Diantara hasil temuan manfaat itu adalah menurunkan kadar glukosa darah (Verdayanti, 2009), menangkal sel-sel rusak akibat radikal bebas dan menghambat penuaan dini (Nurkhasanah, 2013), dan kandungan organoleptik dan vitamin C (Octavia, 2014). Namun tekstur warna buah kersen yang sangat memukau mata ini, tampaknya belum ada yang mengkajinya. 

Kajian tentang manfaat warna untuk kehidupan, kita dapat belajar pada ilmu colourologi. Namun ilmu Colourologi ini belum banyak dikembangkan pada media terapi alternatif pada buah kersen. 
Colourologi atau semacam turunannya chromotheraphy atau menggunakan warna untuk tujuan kesembuhan kalah jauh dari racik obatan kimia. Tampak kemajuan Chromotheraphy cenderung maju dalam hal penjualan perkakas lampu dan kosmetik lipstik yang memang diarahkan pada peningkatan daya komsumsi publik saja. Adapaun Colourologi dan juga Chromotheraphy belum dimanfaatkan untuk mengkaji warna warni buah-buahan di Nusantara ini yang memang jago hasilkan buah tropis yang beragam, khususnya Colourologi buah kersen.
Barisan warna buah kersen yang memukau [doc. Foto Vistaphotography, 2017]
Barisan warna buah kersen yang memukau [doc. Foto Vistaphotography, 2017]
Untuk itu perlu kiranya dilakukan kajian mendalam dan kompleks terhadap warna buah kersen dan efeknya penyembuhannya dalam terapi warna. Kajian awal tentang terapi warna dan efeknya pada kesehatan pernah terulas oleh Adiati tahun 2014. Namun lagi-lagi, ulasan tentang Colourologi hanya semacam pintu masuk saja. Detail tentang Colourologi buah Kersen, belum. 
Hasil pengamatan singkat, buah kersen memiliki warna kemerahan pada saat masak. Tampak pada foto di atas, semakin masak, warna buah kersen semakin pekat dan kaut. Dalam kajian colourologi, merah merupakan warna yang dapat meningkatkan metabolisme tubuh. 
Untuk lebih detailnya, kita dapat melakukan Chromotheraphy pada video buah kersen di bawah ini. 
dan untuk mengenal ekologi dan cara memanennya, dapat dilihat pada video di bawah ini. 
Semoga kajian tentang buah kersen ini semakin banyak yang memperhatikan. Buah kersen yang telah terbukti disukai para burung, memiliki kandungan manfaat untuk kesehatan, namun warna buah kersen yang memukau ini belum banyak yang memperhatikan untuk kepentingan chromotheraphy dalam kajian colourologi. 
Semoga pembaca mendapatkatkan manfaat chromotheraphy pada saat membaca artikel "Colourologi Buah Kersen" ini.

Terima kasih. 

Rabu, 09 Oktober 2019

Traveling Semarang

Senja di Sudut Semarang

Tugu muda 
Kala itu di sore yang cerah, kaki ini berpijak ditanah bukan kelahiran. Tanah di pulau Jawa ini menyimpan sejuta keragaman di Provinsi Jawa Tengah.
Semarang. Ya, wilayah yang tidak asing lagi didengar dan dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah.

Beberapa tempat yang saya kunjungi di Semarang memiliki kesan menarik untuk saya ulas, dan dalam tulisan ini, akan saya sampaikan beberapa kesan tak terlupakan dari Kota Semarang.

Senja, 9 Oktober 2019 menemani saya dalam perjalanan singkat menjelajah Kota Semarang. Berawal dari kawasan Semarang Utara, di Smart Budget Hotel saya mengistirahatkan badan sejenak.
Potret lingkungan dari lantai 2 smart budget hotel
Kamera yang saya bawa selalu standby mendampingi untuk memotret objek, mulai dari yang biasa saja hingga luar biasa. Ada pelajaran yang saya dapatkan dari fotografi. Sudut pandang luar biasa akan merubah sesuatu yang biasa saja . 
Burung dan kabel listrik (shot by canon eos 80D)
Langit senja dan siluet daun bambu


Entah sudah berapa mil jejak yang tertinggal. Ribuan kenangan menyertai setiap langkah kaki yang berjalan. Bayang semu yang mulai melukiskan kerinduan dengan seseorang diangan-angan.

Semarang. Kisahmu terlalu panjang untuk ku tuliskan. Hanya potret disetiap sudut kotamu yang mampu ku pamerkan. Dan disinilah kebahagiaan baru mulai singgah dan ikut mewarnai perjalanan singkat.


Selasa, 01 Oktober 2019

Sesorah Basa Jawa

SESORAH

Sesorah yaiku ngandharake gagasan kanthi lesan ing sangarepe wong akeh kanthi ancas lan tartamtu.
miturut jinise, sesorah ana sing kanggo upacara adat mantenan, sunatan, lan sedekah bumi.
miturut gunane, kaperang dadi 3
1. Sabdatama yaiku sesorah tunggal kang ora kudu ana wangsulan. kayata nasehat, khutbah kyai.
2. Pambgyaharja yaiku sesorah kanggo mahargya utawa mapak tamu. Biasane kanggo acara mantenan.
3. Tanggap Wacana yaiku sesorah kang kudu ana wangsulane. kayata pasrah temanten.

Ancase sesorah iku ana 4
1. Atur kabar
2. Atur pambagyaharja
3. Atur panglipur
4. Pangajak

Carane sesorah
1. sesorah dadakan / impromptu yaiku kang ora kanyana-nyana. tanpa disiapake
2. sesorah apalan / memoriter yaiku sesorah kang nganggo catetan sing kudu diapalke.
3. sesorah extemporan yaiku sesorah kang nganggo catetan sing mung digunakake kanggo pangiling-iling urutan wedharane.
4. sesorah teks yaiku sesorah kang migunakake teks lan diwaca sawutuhe.

Bab wigati nalika sesorah
a. basa
b. busana
c. solah bawa
d. swara

Cegkorongan  / Rantamane Sesorah
1. Uluk salam
2. Purwaka
3. Isi
4. Pangarep-arep
5. Panutup

Kamis, 12 September 2019

Kwarcab Rembang Berhasil Sabet 3 Juara Dalam Kegiatan Pertihusada Daerah Kwarda Jateng 2019

Peserta Pertihusada VI Kwarda Jateng Kontingen Kwarcab Rembang 
(13/9/2019) Kontingen Kwartir Cabang Rembang berpartisipasi dalam kegiatan Perkemahan Bakti Saka Bakti Husada (PERTIHUSADA) ke - VI Tahun 2019 Kwartir Daerah Jawa Tengah berhasil menjuarai 3 kegiatan.

Kontingen Kwarcab Rembang usai upacara penutupan kegiatan dan pengumuman hasil kejuaraan
Kegiatan Pertihusada Daerah yang dilaksanakan pada tanggal 9 - 13 September 2019 ini diikuti oleh 35 kwartir cabang se- Jawa Tengah. Salah satunya adalah Kwartir Cabang Rembang yang ikut meramaikan kegiatan ini dan berhasil memboyong 3 piala diantaranya;Juara 1 Giat Safari Krida
Juara 2 Giat Lomba Desain Poster Manual
Juara 2 Giat Lomba Merangkai Buah.
Juara 2 Lomba Desain Poster, Juara 1 Giat Safari Krida, Juara 2 Lomba Merangkai Buah (keterangan gambar dari kiri)
Kegiatan yang diselenggarakan di  Bumi Perkemahan Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas ini merupakan kegiatan yang diadakan oleh Kwartir Daerah setiap 5 tahun sekali. 
Potret Kontingen Kwarcab Rembang dalam kegiatan Parade Budaya
Pertihusada daerah yang diselenggarakan oleh kwartir daerah Jawa tengah merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Dan pada tahun ini adalah penyelenggaraan ke VI kegiatan Perkemahan Bakti Saka Bakti Husada Tingkat Kwartir Daerah Jawa Tengah.
Dalam pelaksanaan kali ini,Kontingen  Kwartir Cabang Rembang berhasil mengharumkan nama Kwartir Cabang Rembang dengan prestasi yang diraihnya. Sesuai dengan harapan Ketua Kwartir Cabang Rembang, Kak H. Bayu Andrianto, SE pada saat upacara pelepasan kontingen yang diselenggarakan pekan lalu.









Sumber foto : Kontingen Kwartir Cabang Rembang